fbpx

Kuliah Dengan Beasiswa Di Parisnya Timur Tengah ( Libanon ) Siapa Takut !

Kuliah diluar negri seakan menjadi ajang perlombaan bergengsi bagi pelajar di seluruh kota di Indonesia, satu dua Universitas bahkan lebih yang mereka ajukan untuk mendapatkannya, ya begitupun Aku.

Beasiswa Kemenag menjadi jembatan yang menyebrangi Aku sampai ke negara Lebanon. Memang kuliah di Lebanon adalah hal yang konyol bagi kebanyakan orang, negara konflik. “Lebanon? Ngapain mau perang? nggak ngeri apa? Sebelah Palestina loh?” Selentingan kerabat, teman bahkan tetangga menghantui pikiran, rasa takut was-was ragu bercampur menjadi satu, seakan otak kiri menolak dan otak kanan mengiyakan. Segudang Informasi tentang Lebanon pun Aku cari, Alhamdulillah rasa tenang muncul ketika Mahasiswa Senior disana menjelaskan bahwa Lebanon aman. Karena kesempatan belum tentu bisa datang dua kali, maka Aku coba!

Lebanon dengan keberagaman agama juga sekte di dalamnya menjadikan ia sangat menarik di mataku. Pengaruh Prancis pun sangat kuat di sini sehingga ia sering disebut Paris-nya Timur Tengah selain dari bangunan ala Eropa yang terdapat di dalamnya, pun hal ini menjadi warna tersendiri jika dibandingkan dengan negara Timur Tengah lainnya.

Ahad, 30 Oktober 2016 menjadi sejarah berpijaknya kaki ini di Lebanon, tepatnya di bandara Rafiq Hariri Beirut. Suasana baru udara akhir musim panas menjadi awal perkenalan Aku dengan negara ini. ” Ternyata bau udaranya sama saja “ pikiranku membayangkan akan bedanya aroma udara diberbagai negara.

Tak segan Aku menyapa orang-orang di bandara, dengan senyum ku lontarkan bahasa fushaku yang seadanya, begitu dibalas senyum dan dijawab dengan bahasa ‘ammiyyah yang bertubi-tubi, apa? bahasa arab kah ini? tidak satu huruf pun Aku paham, awal tak segan menjadi segan. Dua langkah mundur balik badan, kabur pun menjadi solusi. Perlu diketahui bahasa arab terbagi dua, yaitu : Bahasa Arab Fusha ( Formal ) dan Bahasa Arab ‘Ammiyyah ( Non-formal ).

Halba kota kecil bagian Utara Lebanon menjadi saksi aktifitas harianku, di pekarangan kebun zaitun dan deretan rumah warga tepatnya. Beirut Islamic University-Akkar, biasa juga disebut Jami’ah Daar El-Fatwa. Ya, Universitas dimana Aku sekarang mengenyam pendidikan.

Aku pikir jika sudah masuk jam belajar di perkuliahan bisa menghindar dari bahasa non-formal dan bahasa formalku terpakai. Pelajaran yang ditunggu-tunggupun dimulai, mataku terbelalak tak percaya, hanya sebagian dari perkataan dosen yang Aku paham dan sebagian lagi larut mengikuti arus. Tak jarang teman-teman dari Lebanon mengolok-olok “Andunisiyyun La Yafhamuun (orang indonesia pada gak paham) ”  Jengkel, kesal, iri muncul bergantian, Aku anggap itu hanya candaan dan menjadi motivasi tersendiri agar lebih giat dalam belajar. Empat hari dalam seminggu waktu jam masuk kuliah. Dosen-dosen yang luar biasa kelimuannya, teman-teman dari berbagai negara mendorongku semakin semangat dalam menimba ilmu di fakultas syari’ah ini.

Lain di kelas lain juga di lingkungan sekitar. Bahasa formal seolah lelucon yang membuat gatal perut bagi mereka, Aku heran dan bertanya-tanya di sudut mana lucunya? tersadar, masyarakat sekitar merasa itu suatu yang asing, karna bahasa Formal jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan hanya mereka temukan di koran dan buku-buku.

Negeri Arab identik dengan pakaian gamisnya, tanpa berpikir panjang beberapa gamispun ku bawa dari Indonesia, tak sabar rasanya berpakaian gamis tiap hari, pikiranku mulai membayang-bayang. Sesampainya di Lebanon yang terjadi sebaliknya, tidak seorangpun memakai gamis, terlihat hanya orang-orang kotaan yang berpakain modis kebarat-baratan. Begitupun pakaian dikelas, pelajar setingkat TK sampai tingkat SMA berpakaian bebas layaknya mahasiswa, hanya segelintir sekolahan yang mewajibkan muridnya berseragam.

Masyarakat yang tergolong konsumen menjadikan biaya hidup mahal, mata uang yang digunakan yaitu Lebanon Pound (LBP) atau Lebanon Lira (LL). Karna banyaknya turis yang singgah, maka transaksi jual beli pun menggunakan Dolar. Super mahal Aku katakan, dengan kantong mahasiswa seadanya hemat adalah pilihan. Pulsa Internet misalnya, beli masa aktif satu bulan dan pulsa saja 1,5 GB kisaran 20 $, harga yang melambung memenjarakanku pada wifi diasrama, itu pun harus sabar karna lemahnya wifi disini.

Mati lampu menjadi makanan setiap hari, tiga kali sehari bahkan lebih menemani kehidupan, diesel menjadi solusi, tidak ada perusaan negara yang mengurusi masalah diesel disini, jelas menjadi makanan empuk bagi para pembisnis swasta, maka tak heran hampir semua rumah di Lebanon menggunakan diesel. Tahun pertama tanpa diesel mengingatkanku akan para ulama terdahulu yang belajar hanya ditemani lampu minyak atau dibawah terangnya sinar bulan pada malam hari, Aku berfikir cobaan kita jauh lebih kecil dibanding dengan mereka, maka bersyukurlah.

Letupan suara senapan sering terdengar dari luar asrama, kepanikanku muncul ketika bergeming berkali-kali seakan terjadi peperangan, anak baru yang tak tahu apa-apa disambut dengan suara senapan yang pasti ada apa-apanya, tentu ini hal yang mengerikan, tak segan ku bertanya kepada warga sekitar, ternyata, suara tembakan senapan beruntut-runtut itu tanda dilangsungkannya pernikahan atau acara besar lainnya. Kebebasan masyarakat menyimpan senapan pada rumah-rumah di Lebanon membuatku bertanya-tanya, untuk apa? berjaga-jaga? Jawabanya bukan, senapan itu legal hanya senapan untuk berburu burung, berbagai macam senapan yang cukup membahayakan orang lain tentu dilarang, yang jelas tidak banyak dari warga punya senapan, jadi hanya sekedar mengekspresikan hobi.

Merasakan empat musim tentu tidak terbayang sebelumnya bagaimana musim panas, gugur, dingin dan semi. Panasnya lebih panas dari Indonesia, dingin pun lebih dingin dari hujan deras. Musim dingin dan salju adalah hal yang kutunggu-tunggu, es parut sebesar gunung menjadi roman istimewa bagi Aku yang orang katulistiwa.  Salju salah satu hal yang menarik disini, beda dengan negara arab lainnya yang terkenal dengan gurun, badai pasir, panas terik adalah hal yang lumrah bagi kebanyakan orang.

Awal tahun permulaan musim dingin tiba, seketika bayang indahku sirna saat menyadari kulit ini tidak kuat menahan dinginnya udara, gatal, memerah, membengkak ditangan dan kaki, bibir pecah-pecah mulai terasa, sontak Aku kaget dan bergegas ke Apotek untuk membeli obat. Terbayar sudah, obat penasaran disuguhi obat sungguhan, nasib, bahkan dingin suhu udaranya sampai -0°c kurang dari nol derajat. Adaptasi kulit menjadi awal perkenalanku dengan negara ini.

Anggapan negara Lebanon perang itu bermula sejak pembunuhan mantan Perdana Mentri Rafiq Hariri dengan suatu bom mobil pada tanggal 14 Februari 2005, seketika bermunculan konflik-konflik berkelanjutan. Demi menyeimbangkan keadaan segalanya diperketat, mulai dari izin tinggal sampai palang pemeriksaan di jalanan. Pemeriksaan hawiyyah (kartu perizinan tinggal) disetiap jalan membuat perjalanku terasa sedikit tidak nyaman, pun sebelum masuk masjid kalau bawa tas biasanya diperiksa, kecuali di masjid perkampungan.

Ada cerita menarik, suatu hari temanku ditahan sementara oleh tentara karena tidak membawa kartu izin tinggal, alhasil kita yang membawa kartu harus kembali lagi keasrama untuk mengambil kartunya, ketika sudah diperlihatkan maka terbebaslah dari tentara. Tak kalah menarik juga Aku pernah lupa membawa kartu tersebut, cemas dan takut menyelimuti sampai tenggorokan terasa kering kemarau, ketika melewati palang pemeriksaan yang Alhamdulillah kartuku tidak diperiksa, senangnya Aku selamat dari tentara, semoga tidak terulang.

Kebiasaan di Lebanon tentu beda dengan kebiasaan di Indonesia, banyak yang Aku temukan bertentangan dengan budaya kita, ambil contoh menggeleng kepala atau menggeleng kepala sambil memutar tangan seperti memutar lampu disini berarti pertanyaan “Apa?”, juga alis dinaikan dan mulut bersuara seperti ” Ck ” yang berarti ” Tidak “, ada dari kebiasaan yang kita anggap buruk menurut mereka candaan misal menampar belakang leher bagi kita orang Indonesia itu tidak baik, tapi bagi mereka itu tanda canda teman, tak jarang kita salah sangka pada mereka dan merekapun demikian

Kesalah pahaman sering terjadi antara Aku dan orang Lebanon, mereka sangat menjunjung tinggi pendapat mereka, bahwa pendapat merekalah yang paling benar, ketika mereka merasa pendapat mereka salah maka terucaplah “Limadza anta dzaky? (Kenapa kamu cerdas?)”, sabar.

Disamping itu, masyarakat Lebanon sangat menghargai orang yang cacat fisik (autis), menurut mereka orang yang menderita cacat fisik ini adalah orang yang paling dekat dengan Allah dan termasuk orang yang masuk surga tanpa hisab, seakan penduduk surga yang dititipkan didunia. Tak jarang Aku melihat orang mencium tangannya, memberi uang, memberi makanan bahkan meminta dido’akan, berbanding jauh dari negeriku.

Makanan tentu menjadi ciri khas suatu negara, lain negara lain juga makanannya. Terbiasa dengan menu masakan khas Indonesia yang beraneka rasa tentu berat bagiku untuk membiasakan memakan masakan Arab. Roti bulat besar seperti ban adalah makanan pokok masyarakat Lebanon. Pagi hari disajikan sarapan roti dengan ditemani biji zaitun, minyak zaitun, keju, biji-bijian, dan juga za’tar (nama sebuah biji yang sudah ditumbuk halus). Orang Lebanon sebut saja Orang arab mendeklarasikan diri bahwa mereka anti pedas, menurut mereka rasa pedas adalah mimpi buruk, setetesnya saja seperti sengatan listrik, ya begitu terlihat dari wajah mereka yang memerah ketika mencicipi masakan buatanku, khas Indonesia tentunya. Tak jarang mereka menolak tawaran makan bersama orang Indonesia, ” Andunisiyyun yuhibbuna al-har ” ( yang berarti “Orang Indonesia suka pedas”) ucap mereka.

Berbagai macam minuman disuguhkan pada waktu tertentu,  minuman soda sehabis makan, teh dan kopi ketika kumpul-kumpul. Lebanon bisa dibilang pecinta kopi pahit, karna pejual kopi dapat dijumpai disetiap tempat di Lebanon, tak heran jika bertamu yang pertama kali ditawarkan adalah kopi “Baddak Ahweh? ( Mau ngopi? )”. Menurut mereka kopi adalah teman hidup mereka,  jika belum minum kopi seakan ada yang kurang, tapi Aku katakan kopi mereka sangatlah pahit, jadi kalau ada yang suka kopi sangat pahit, cobalah kopi Lebanon biar tahu kopi pahit sesungguhnya. Begitupun dengan manisan atau orang lebanon biasa menyebutnya “Halawiyat” merupakan hidangan favorit warga Lebanon dalam menyambut tamu atau dalam setiap acara penting.

Luar Negrei adalah bayang-bayang ilusi, yang hanya bisa dinilai oleh orang yang sudah pernah merasakannya. Jadi setepat-tepatnya dugaan, informasi, berita atau kabar dari teman yang pernah ke luar negeri tidak dapat dicerna dan dipercayai seketika. Percaya, jangan takut keluar negeri dan jangat cepat termakan kabar yang itu belum tentu benar adanya, apalagi tempatnya jauh disana.

Luar negri seperti menemukan dunia baru, dunia yang berbeda, semuanya beda, mengajarkan kita betapa pentingnya perbedaan. Bumbu-bumbu penasaran itu yang membuat kita lebih dewasa, lebih mengerti bahwa dunia ini penuh dengan warna yang tidak hanya tujuh warna itu, percayalah.

Wafiq Aulia, Mahasiswa Beirut Islamic University – Akkar, Fakultas Syari’ah

Instagram. @wafiq.aulia

 

You may also like...

10 Responses

  1. bunaiya says:

    Keren sekali di Lebanon… jadi tertarik..

     
  2. Crnaad says:

    Mirip mirip turkey gitu ya

     
  3. Ariq Fadhlur Cahyanto says:

    Hhhmmtt……. Lumayan kak infonya buat saya yang akan berangkat tahun ini (2018) ke Lebanon buat studi S1…..

     
  4. Masya Allah saya suka tulisannya. satu pandang selesai dibaca.
    cara penulis mendeskripsikan lebanon sangat menarik. saya suka, semoga saya bisa mengikuti jenjang penulis juga. yaitu kuliah di Lebanon. Aamiin…

     
  5. Alasti Elva Mentari says:

    memotivasi sekali, membuat bersemangat mengejar kuliah di timur tengah:D

     

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *